Sunday, June 10, 2007

Akar-Akar Penghinaan terhadap Islam dalam Pemikiran Barat (1)

Kesabaran umat Islam terus diuji dengan berbagai penghinaan yang dilontarkan Barat, mulai dari kasus kartun Nabi Muhammad saw yang sekarang merebak lagi di Denmark, sampai pernyataan Paus Benediktus XVI yang tendesius tentang jihad dalam Islam dan sosok Nabi Muhammad saw beberapa waktu lalu. Kasus-kasus yang mengundang kemarahan umat Islam ini menimbulkan pertanyaan mengapa penghinaan ini kerap dialami umat Islam. Isu integrasi, toleransi dan dialog seolah menjadi lips service semata karena faktanya umat Islam dan Islam lah yang selalu menjadi sasaran penghinaan dan kebencian. Artikel "Akar-akar Penghinaan terhadap Islam dalam Pemikiran Barat" yang ditulis oleh Sohaib Jassim akan menjawab pertanyaan itu. Sohaib Jassim adalah Kepala Biro Al-Jazeera TV Jakarta. Karena panjangnya artikel, eramuslim akan memuatnya secara bersambung dalam sembilan bagian tulisan. Selamat membaca.

Mengapa Paus Benediktus Menghina Islam lagi?

Pada bulan September 2005, penghinaan terhadap Rasulullah SAW mengemuka melalui karikatur di sebuah majalah di Denmark. Setelah itu penghinaan terhadap Rasulullah SAW terus bergulir bak salju dan meluas baik melalui karikatur ataupun makalah dan tulisan sampai pertengahan tahun 2006 sekarang ini. Satu tahun berlalu - seolah tidak dan belum puas dengan penghinaan sebelumnya - pada bulan September 2006, penghinaan itu kembali terjadi. Seolah mereka ingin terus memprovokasi kemarahan hati umat Islam. Sungguh ironi yang diperlukan dialog antara agama yang terjadi justru provokasi.

Ternyata serangan dan kecaman terhadap Islam dan kaum muslimin tidak pernah berhenti. Beberapa minggu yang lalu misalnya, kaum intelektual garis kanan Amerika Serikat menghina Islam dengan perkataan bahwa Islam itu Fasis. Hal ini kemudian menjadi bahan pidato politik Presiden Amerika Serikat George W Bush yang kemudian menjadi isu hangat di negeri paman syam itu.

Pada tanggal 12 september 2006, sehari setelah peringatan serangan 11 september – alih-alih mengambil simpati umat Islam - Paus Benediktus XVI - seorang pemimpin tertinggi umat katholik di dunia - dalam pidato ilmiahnya di universitas Regensburg di Jerman, kembali mengulangi penghinaan terhadap Islam untuk yang kesekian kali. Ceramah ilmiah yang bertema “korelasi antara iman dan logika dan pentingnya dialog antar peradaban dan agama” ternyata kandungan ceramah itu sangat jauh dari temanya. Ceramahnya tidak mengandung tentang dialog dengan umat Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia, justru sebaliknya yang diungkapkannya hanya hinaan terhadap hal-hal yang sangat disucikan dalam Islam. Pada ceramahnya itu Paus Benedict XVI mengutip pernyataan Kaisar Kristen Ortodoks abad ke 14 Kaisar Manuel II Palaeologus yang merupakan hinaan dan kecaman yang jelas terhadap Islam dan Nabi Muhammad SAW.

Dalam ceramahnya, Paus Benediktus XVI mengutip isi salah satu buku sejarah tentang pentingnya pembuktian tuhan melalui logika. Tetapi semua yang dikutip oleh Paus Benediktus XVI merupakan kecaman dan hinaan tanpa alasan kepada Nabi Muhammad SAW dan kepada Islam.

Setelah beberapa hari dari ucapannya, pada tanggal 16 – 17 september, Paus Benediktus XVI menjelaskan apa yang dia katakan sebelumnya bahwa menurutnya ia hanya mengutip pernyataan orang lain dan umat Islam salah memahami konteks yang ia kutip dan ia menyesal dengan munculnya kemarahan umat Islam yang menurutnya menyalahi kodrat idiologi dirinya.

Penjelasan seperti itu bukan meringankan penghinaan sebelumnya justru malah tambah menghina umat Islam yang menurutnya salah memahami apa yang dia katakan seolah-olah umat Islam itu bodoh dan tidak faham konteks sebuah pembicaraan. Berikut adalah pendapat DR Yusuf Al-Qardhawi Ketua Persatuan ulama Islam Internasional dan pendapat beberapa ulama Islam lainnya bahkan tokoh Kristen internasional yang semuanya berpendapat bahwa ada beberapa kesalahan fatal Paus Benediktus XVI dalam beberapa point di bawah ini:

Paus Benedict XVI dalam ceramahnya mengutip sebuah dialog yang panjang yang menggambarkan penghinaan terhadap Islam bahwa Islam itu disebarkan dengan kekerasan dan pedang, dan bahwasanya Rasulullah SAW sama sekali tidak membawa kebaikan kecuali ajaran syetan dan tidak manusiawi dan masih banyak lagi penghinaan yang dikutip seperti yang dimuat oleh website Vatikan dalam internet.

Yang menjadi masalah adalah, bahwa dalam etika intelektual, ketika seorang peneliti mengutip sebuah pendapat orang lain dan ia sendiri tidak memberikan tanggapan apapun baik setuju atau tidak dengan pendapat tadi maka pada dasarnya yang mengutip itu setuju. Ini berarti Paus Benediktus XVI setuju dengan penghinaan terhadap Islam seperti yang ia kutip dari dialog tersebut.

Dari sisi media, menurut salah satu koran terkemuka di Amerika Serikat, seharusnya Paus Benediktus XVI sadar bahwa ia tidak memberikan kuliah di sebuah kelas teologi seperti yang pernah dia lakukan beberapa tahun lalu, ia juga harus sadar bahwa ia tidak berceramah di depan belasan muridnya di sebuah kelas terbatas. Pada kesempatan seperti itu, ia berhak untuk berbicara apapun yang ia mau. Tetapi sekarang dia harus sadar, dia bukan lagi dosen teologi dan sejarah agama tetapi dia adalah pemimpin tertinggi agama katholik.

Dari kejadian ini, nampaknya Paus Benediktus XVI memerlukan juru bicara dan biro media agar bisa mengarahkan arah pembicaraan yang berguna mengenai hal-hal yang sensitif ketika terjadi krisis hubungan antara umat Islam dan beberap negara besar. Mengutip dengan cara seperti itu sungguh tidak ilmiah, non intelektual dan tidak berguna dari sisi media.

Sangat mustahil bagi Paus Benediktus XVI tidak mengenal Islam sama sekali. Karena dia adalah seorang pemimpin agama tertinggi. Padahal dengan kutipan dari sebuah buku sejarah yang umurnya sudah lebih dari 600 tahun lalu sangat menghina Islam dan kaum muslimin. Bahkan dalam penjelasan selanjutnya ia katakan bahwa umat Islam salah memahami konteks yang ia kutip seolah-olah umat Islam itu bodoh dan tidak memahami sesuatu. Jawaban dan penjelasan yang sama pernah diungkapkan oleh pembuat karikatur yang menghina Islam satu tahun yang lalu. Pada waktu itu sang pembuat karikatur menjelaskan bahwa pembuatan karikatur seperti itu merupakan hak kebebasan dalam berekspresi dan bahwasanya umat Islam tidak mengerti dunia karikatur. Seolah-olah mereka ingin mengatakan bahwa umat Islam itu sangat terbelakang dalam politik maka mereka harus mengajarkannya kepada umat Islam tentang demokrasi dan kebebasannya menurut versi mereka. Menurut mereka juga bahwa umat Islam itu juga terbelakang dalam kreatifitas ilmiah, maka mareka harus mengajarkannya kepada umat Islam tentang kebebasan mutlak seperti dalam karikatur. Menurut mereka umat Islam itu bodoh dalam ilmu pengetahuan, maka mereka harus mengajarkan tentang ilmu, logika, peradaban dan bahkan tentang idiologi agama. Mungkinkah mereka akan mengajarkan umat Islam tentang semua hal tadi dengan cara Paus Benediktus XVI? Seolah-olah umat Islam itu terbelakang dan akan maju kalau setuju dengan penghinaannya terhadap Islam.

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/lpk/6a09165559-akar-akar-penghinaan-terhadap-islam-dalam-pemikiran-barat-1.htm?prev

Melihat Aib Sendiri

Diantara akhlak mereka adalah tidak mengurusi kekurangan orang lain, melainkan berkaca pada kekurangan yang ada pada diri mereka sendiri, mengamalkan Firman Allah (SWT):
"Dan juga pada dirimu sendiri, maka apakah kamu lidak memperhalikan." (adz-Dzariyat : 21)
Juga mengamalkan hadits: "Beruntunglah bagi orang yang mengurusi aibnya sendiri dari pada aib orang lain." Begitu pula orang yang mencari tahu aib orang termasuk golongan syetan, yaitu jauh dari rahmat Allah (SWT) dan kekasih Allah (SWT) tidak merelakan dirinya menjadi demikian.
Zaid al-Qummi berkata: "Aku membaca dalam sebagian kitab suci Allah swt. berfirman: 'Hai anak Adam, aku menjadikan untukmu dua keranjang, satu keranjang di depanmu dan satu lagi di belakangmu. Keranjang yang ada di belakangmu di dalamnya adalah aib-aibmu sedangkan yang ada di depanmu, adalah aib aib orang lain. Maka jika kamu melihat yang di belakangmu tentu kamu tidak mengurusi yang di depanmu." Ia juga berkata: "Seseorang di antara kamu meyakini aibnya sendiri, namun demikian ia menyukainya dan membenci saudara sesama Muslim atas prasangka. Maka di manakah akalnya?"

Bakar bin Abdullah al-Mazni berkata: "Apabila kalian melihat orang yang mengurusi aib orang lain maka ketahuilah bahwa ia adalah seorang musuh Allah swt. dan Allah swt. telah memperdayainya."
Bisyr al-Hafi berkata: "Suatu hal yang mengherankan manusia jika ada seseorang yang melanggar kehormatan saudaranya di belakang tetapi di depannya menampakkan diri mencintainya dan memujinya. Barang siapa menyangka bahwa Allah swt. mencintainya, sementara ia di belakang menjatuhkan kehormatan orang lain maka ia berdusta, sebab ia hakikatnya adalah syetan dan syetan adalah musuh Allah swt."

Yahya bin Muadz berkata: "Di antara keberakalan orang berakal adalah bahwa ia tidak mencela karena satu dosa. Sebab mungkin aku mencela seseorang dengan dosanya lalu aku mengalami dosa itu setelah dua puluh tahun."
Dikisahkan bahwa Isa a.s. berkata: "Janganlah melihat pada keburukan orang seakan kalian yang berkuasa, tapi lihatlah keburukan-keburukan kalian. Sebab kalian adalah hamba. Sebab manusia ada dua yaitu yang mendapat cobaan dan yang selamat dari cobaan. Maka bersabarlah jika mendapat cobaan dan bersyukurlah kepada Allah swt. jika memperoleh keselamatan."
Rabiah Adawiyah berkata: "Sesungguhnya apabila hamba merasakan cinta kasih Allah swt., maka dia memperlihatkan keburukan-keburukan amal perbuatannya lalu ia memperdulikannya, tidak mengurusi kesalahan orang lain."

Mujahid berkata: "Seandainya sebuah gunung berbuat jahat terhadap gunung lainnya tentu yang berbuat jahat itu akan berguncang."
(Saya katakan) Di antara yang seyogyanya dipahami adalah sikap berserah diri seorang hamba, kepada Allah swt. bahwa orang yang berbuat zalim akan dibinasakan dengan kezalimannya. Yang demikian itu lebih besar kebinasaamya dari pada menghadapinya dengan perlawanan keras secara lahiriah. Apabila itu ditinggalkan secara lahiriah, hadapilah dengan yang lebih keras dalam batin. Maka bagi orang yang diperlakukan tidak baik hendaknya tidak membalas dengan perbuatan yang sama melainkan memohon kepada Allah agar tidak dibalas karenanya. Wallahu a'lam
Amirul Mu'minin Umar bin Khattab r.a. berkata: "Semoga Allah swt. memberi rahmat kepada orang yang mau menunjukkan keburukanku."
Abdullah at-Taimi berkata: "Orang tidak mencela orang lain kecuali ia mempunyai kelebihan cela."
Asy-Sya'bi berkata: "Barang siapa mencari-cari keburukan orang lain maka ia tetap tidak punya teman."

Dikisahkan bahwa orang-orang datang kepada Amirul Mu'minin Ali r.a. dengan membawa seorang laki-laki yang mempunyai kesalahan sementara orang-orang di sekelilingnya banyak sekali seperti kerumunan belalang. Lalu Ali berkata kepada mereka: "Demi Allah, bahwa setiap orang yang melakukan kesalahan ini di antara kamu hendaklah pergi." Lalu mereka semua pergi. Maka peliharalah lisan Anda, saudaraku. Sebab orang yang merobek saku orang, mereka akan menyobek sakunya. Janganlah melupakan diri anda. apabila anda melihat keburukan saudara seagama anda, melainkan wajib bagi anda menjadikan itu pengingatakan keburukan anda sendiri. Sebab percikan Lumpur yang dapat mengenai orang lain, dapat juga mengenai anda. Dalam hadits dikatakan: "Barang siapa mencela saudaranya karena suatu dosa maka ia tidak meninggal dunia hingga ia melakukan dosa itu."
(Saya katakan) Apabila Allah memperlihatkan anda keburukan seseorang melalui penyingkapan rahasia, maka beristighfar lah kepada Allah swt., sebab itu hakikatnya adalah penyingkapan syetan.

Dermawan dan Berkepribadian Kokoh di antara akhlak mereka adalah banyak memberi dan memiliki kepribadian kuat, sebagai pengamalan akhlak Rasulullah saw., para sahabatnya, dan para 'ulama yang salih. Orang yang tidak memiliki sifat kedermawanan dan kepribadian yang kuat tidak ada padanya kebaikan meskipun orang itu ahli ibadah.
Hasan Bisri pernah ditanya tentang kepribadian yang kuat, lalu ia menjawab: "Itu ialah meninggalkan yang tercela di sisi Allah swt. dan di sisi manusia."
Para ulama telah sepakat mengenai keharusan berkepribadian kuat dan bersikap dermawan dalam menempuh jalan menuju kepada Allah swt. Tidak memiliki dua sifat itu adalah salah satu tanda orang munafik.

Dalam hadits dikatakan, "Dan akan datang suatu masa kepada manusia di mana kepribadian yang kokoh telah menjadi langka, akhlak diabaikan dan laki-laki berhasrat pada laki-laki dan perempuan berhasrat pada perempuan. Apabila yang demikian telah ada maka nantikan adzab pagi dan sore."
Amir bin Ash r.a. pernah ditanya tentang pribadian yang kokoh, apa sebenarnya? Ia menjawab: "Itu adalah memahami benaran dan bergaul dengan saudara (sesama manusia) dengan baik."
Sari as-Saqati berkata: "Kepribadian kuat adalah menjaga jiwa dari kotoran-kotoran dari segala sesuatu yang mencemari pergaulan hamba di kalangan manusia serta memperlakukan manusia dengan adil dalam segala bentuk pergaulan. Barang siapa menambah dari yang demikian maka ia adalah seorang yang berlebihan."

Rabiah r.a. berkata: "Tidak termasuk kepribadian kuat jika seorang pedagang mengambil keuntungan dari teman dekatnya."
(Saya katakan) Sebaliknya, kepribadian kuat pada pedagang adalah jika ia rela mengambil keuntungan sedikit dari teman dekatnya, bukan tidak mengambil keuntungan sama sekali, sebab berdagang adalah mencari keuntungan duniawiah maupun akhirat.

Abu Abdullah Muhammad bin Araq ditanya tentang kepribadian yang kuat, apa itu? Ia menjawab: "Adalah Anda tidak melakukan perbuatan yang membuat Anda malu di dunai dan akhirat."
Abu Hurairah r.a. apabila ditanya tentang kepribadian yang kuat menjawab: "Itu adalah makan siang dan makan malam di halaman rumah bukan di dalamnya."

Hasan bin Kaisam menulis pada pintu rumahnya " Barang siapa masuk makan।" Kaum salaf apabila salah seorang diantara mereka meminjam ketel untuk masak maka ketika mengembalikannya diisi penuh dengan makanan. Kadang kadang pemiliknya meminjamkannya dengan diisi makan dan mengatakan bahwa ia tidak suka meminjamkannya kosong. Al-Ashmu'i pernah ditanya tentang kepribadian yang kuat ia menjawab: "Makan yang disuguhkan, lisan yang manis tutur katanya, harta yang dibelanjakan, menahan diri dengan baik terhadap dosa dan menahan perilaku menyakitkan."
Sumber:
http://sufinews.com/index.php?subaction=showfull&id=1153883981&archive=&start_from=&ucat=3&go=artikel

Karen Armstrong: Islam Tidak Selayaknya Diasosiasikan dengan Terorisme

imagePenulis terkenal Inggris Karen Armstrong menyatakan, Islam tidak selayaknya diasosikan dengan serangan teroris yang dilakukan oleh orang-orang yang menyebut diri mereka Muslim. Karena tindakan orang-orang itu justru sudah melanggar prinsip-prinsip esensial Islam.

Dalam artikelnya yang dimuat harian Inggris terkemuka The Guardian, Armstrong menulis, "Kita membutuhkan satu kata yang lebih pas dari sekedar kata 'teroris Islam'. Al-Qur'an melarang peperangan yang bersifat menyerang, perang dibolehkan hanya untuk kepentingan mempertahankan diri dan nilai-nilai Islam yang benar mengajarkan perdamaian, rekonsiliasi dan pemberian maaf."

Karen Armstrong yang cukup produktif menulis buku keagamaan ini mengatakan bahwa orang yang melakukan tindakan yang mengerikan, tidak memiliki agama, apakah mereka menyebutnya sebagai Muslim, Kristen atau Yahudi yang melakukan kejahatan atas nama agama mereka.

"Maka, meskipun Muslim, seperti juga Kristiani atau Yahudi, seringkali gagal untuk mengedepankan idealismenya, hal itu bukan karena agamanya," kata Armstrong yang dengan menyatakan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian, cinta dan toleransi serta tidak pernah melakukan paksaan yang berkaitan dengan agama.

image"Dan selama berabad-abad Islam sudah memiliki catatan yang lebih baik dalam hal toleransi dibandingkan dengan agama Kristen. Hukum Islam tidak membenarkan perang terhadap negara yang memberikan kebebasan bagi warga Muslimnya untuk beribadah, Islam melarang pembakaran, perusakan bangunan-bangunan dan pembunuhan terhadap warga sipil tak berdosa dalam sebuah kampanye militer," tambah Armstrong.

Ia juga mengungkapkan keheranannya, mengapa pemboman berdarah yang dilakukan oleh tentara Republik Irlandia (IRA) tidak membuat orang serta merta menyamakan Kristen dengan terorisme seperti mereka mengaitkan kasus serupa dengan Islam.

"Kita jarang, bahkan tidak pernah menyebut pemboman yang dilakukan kelompok 'Katolik' IRA sebagai terorisme, karena kita cukup tahu dan menyadari bahwa persoalan ini secara esensi bukan sebuah kampanye keagamaan," katanya.

"Tentu, seperti juga gerakan republik Irlandia, banyak gerakan fundamentalis di dunia yang terbilang masih baru, membentuk nasionalisme yang menyamarkannya dalam persoalan keagamaan yang kental. Hal ini jelas terlihat dalam kasus fundamentalisme di kalangan zionis di Israel dan semangat patriotisme perjuangan hak-hak umat Kristen di AS," tulis Armstrong.

Armstrong , penulis buku 'Islam, a Short History' juga mengkritik stereotipe kata 'Jihad' yang berasal dari bahasa Arab, semata-mata diartikan dengan perang suci. "Para ekstrimis dan polistikus yang tidak bermoral sudah mencuri kata itu untuk tujuan-tujuan mereka sendiri, makna sebenarnya dari Jihad bukan hanya 'perang suci' tapi 'perjuangan' atau 'ikhtiar'. Umat Islam diperintahkan untuk berjuang sekuat tenaga di berbagai aspek-sosial, ekonomi, intelektualitas, etika dan spiritual-untuk melaksanakan perintah Tuhan dalam kehidupan sehari-hari," tegasnya lagi.

Armstrong mengatakan, jihad merupakan nila-nilai spritual yang baik yang bagi kebanyakan umat Islam tidak ada kaitannya dengan kekerasan. Ia menilai sejumlah orang sudah melakukan kesalahan dengan lebih suka menyebut teroris dengan istilah 'para pelaku jihad'. Ia menekankan kembali bahwa teroris sama sekali tidak mewakili Islam yang sebenarnya. (ln/iol/eramuslim)

Sumber :
http://swaramuslim.net/more.php?id=200_0_1_0_M

Friday, June 8, 2007

Fase Penciptaan Manusia (B)

Buku berjudul "Perkembangan Manusia" yang ditulis Profesor Keith Moore telah diterjemahkan ke dalam delapan bahasa. Buku ini dijadikan referensi penelitian ilmiah, dan dipilih oleh Komite Khusus di Amerika Serikat sebagai buku terbaik yang ditulis oleh satu orang. Kami bertemu dengan penulis buku ini dan menjelaskan kepadanya beberapa ayat al-Quran dan hadis yang berkaitan dengan spesialisnya di bidang embriologi.

Profesor Moore meyakinkan keterangan kami, sehingga kami mengajukan pertanyaan sebagai berikut: "Anda menyebutkan di buku Anda bahwa pada abad pertengahan tidak ada kemajuan dalam ilmu pengetahuan dalam bidang embriologi dan hanya sedikit yang tahu pada saat itu. Pada saat yang sama, al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan beliau mengajarkan kepada masyarakat sesuai dengan apa yang Allah turunkan kepadanya. Di dalam al-Quran Juga menjelaskan gambaran penciptaan manusia secara detail dan perkembangan manusia pada fase yang berbeda. Anda adalah seorang ilmuwan yang ternama, namun, mengapa Anda tidak membela kebenaran dan menyebutkan kebenaran ini di dalam buku Anda?" Beliau menjawab: "Anda memiliki bukti dan saya tidak. Jadi, mengapa Anda tidak mempresentasikan hal itu kepada kami?"

Kami melengkapinya dengan bukti dan Profesor Moore ternyata terbukti menjadi seorang ilmuwan yang ternama. Dalam bukunya edisi ketiga, dia membuat beberapa tambahan. Buku ini telah diterjemahkan, sebagaimana yang kami sebutkan sebelumnya ke dalam delapan bahasa, termasuk bahasa Rusia, Cina, Jepang, Jerman, Italia; Portugis, dan Yugoslavia. Buku ini dapat dinikmati karena sudab tersebar ke seluruh dunia dan dibaca beberapa ilmuwan dunia yang terkenal.

Profesor Moore menyatakan di dalam bukunya tentang Abad Pertengahan bahwa:

"Perkembangan ilmu pengetahuan berjalan secara lambat dari zaman pertengahan dan ada sedikit perkembangan penyelidikan dalam hal embriologi yang diusahakan selama abad ini sebagaimana yang telah kita ketahui. Hal ini dijelaskan di dalam al-Quran, kitab suci umat Muslim, manusia diciptakan dari sebuah campuran pengeluaran dari laki-laki dan perempuan. Beberapa referensi yang lain menyebutkan bahwa penciptaan manusia itu dari setetes mani (sperma) dan juga diharapkan bahwa hasil dari organisme itu terbentuk dalam janin perempuan seperti sebuah biji enam hari setelah permulaan (blastosit manusia mulai tertanam sekitar enam hari setelah pembuahan).

Al-Quran juga menyebutkan bahwa setetes mani itu berkembang menjadi segumpal darah yang membeku. Penanaman blastosit atau secara spontan gagal/gugur akan menyerupai segumpal darah secara konsep. Embrio juga dikatakan mirip segumpal zat/substansi seperti permen karet atau kayu (sesuatu yang mirip dengan gigi yang menandakan gumpalan zat).

Perkembangan embrio menjadi manusia pada hari keempat puluh sampai keempat puluh dua dan tidak lama kemudian fase ini mirip embrio binatang. Pada fase ini, embrio manusia mulai memperoleh sifat-sifat manusia. Al-Quran juga menjelaskan bahwa pertumbuhan embrio mengalami tiga kegelapan, pertama, dinding perut depan (ibu), kedua, dinding uterus, ketiga, membran Amniokhorionik. Ruangan yang tidak mengizinkan memperbincangkan beberapa referensi Yang menarik lainnya yang berkaitan dengan pertum­buhan manusia sebelum dilahirkan yang muncul di dalam al-Quran.

Hal ini sesuai dengan apa yang telah ditulis Prof. Moore di dalam bukunya. Segala puji bagi Allah. Dan sekarang telah disebarkan ke seluruh dunia. Kesesuaian antara ilmu pengetahuan dan al-Quran ini menjadikan kewajiban bagi Profesor Moore untuk menjelaskan hal ini di dalam bukunya. Dia menyimpulkan bahwa klasifikasi modern dari fase perkembangan embrio yang telah diterima di seluruh dunia tidaklah mudah atau lengkap. Hal ini tidak menolong pemahaman dari perkembangan fase embrio, sebab fase itu menurut basis angka, yaitu fase 1, fase 2, fase 3, dan seterusnya. Pembagian yang dijelaskan di dalam al-Quran tidak tergan­tung dengan sistem basis angka. Al-Quran mendasarkan pada perbedaan sesuai bentuk yang dilewati embrio agar mudah diidentifikasi.

Al-Quran menjelaskan fase perkembangan janin sebelum kelahiran sebagai berikut: Nutfah yang berarti "tetesan" atau air yang sedikit jumlahnya, alaqah yang berarti struktur seperti lintah, mudghah yang berarti struktur seperti kunyahan, `idhaam yang berarti tulang atau kerangka, kisaa ul-idham bil-laham yang berarti daging pembungkus tulang atau otot, dan an-nash'a yang berarti bentuk janin yang jelas. Profesor Moore telah mengetahui bahwa bagian ayat al-Quran ini benar­benar berdasarkan pada fase pertumbuhan janin sebelum masa kelahiran. Dia memberi cacatan bahwa bagian ini menunjukkan penggambaran secara ilmiah yang elegan yang mencakup banyak hal dan praktik.

Dalam suatu konferensi, Profesor Moore menyatakan sebagai berikut: Embrio berkembang di dalam kandungan ibu atau dilindungi uterus dengan tiga selubung atau lapisan, sebagaimana yang ditunjukkan dalam kaca mikroskop. (A) Menggambarkan dinding perut depan, (B) Dinding Uterus (C) Membran Amniokhorinik. Sebab fase embrio manusia ini kompleks, memperlihatkan kelanjutan dari proses perubahan selama pertumbuhan, telah diusulkan bahwa sistem klasifikasi baru dapat dikembangkan dengan penggunaan istilah yang tersebut di dalam al-Quran dan Sunnah. Usulan ini sangat sederhana, luas, dan sesuai dengan ilmu pengetahuan tentang embriologi sekarang ini.

Studi al-Quran dan hadis secara intensif empat abad terakhir telah menurunkan sistem klasifikasi embrio manusia yang menakjubkan sejak al-Quran diturunkan pada abad ketujuh. Meskipun Aristoteles, penemu ilmu pengetahuan tentang embriologi, menyadari bahwa pertumbuhan embrio anak ayam pada fase dari penelitiannya terhadap telur ayam pada abad keempat. Dia tidak memberikan penjelasan secara mendetail tentang fase ini. Sejauh yang diketahui dari sejarah embriologi, hanya sedikit yang tahu tentang fase dan klasifikasinya embrio manusia sampai abad kedua puluh. Untuk alasan tersebut, gambaran embrio manusia di dalam al-Quran itu tidak berdasarkan ilmu pengetahuan secara ilmiah pada abad ketujuh. Hanya kesimpulan yang masuk akal bahwa gambaran ini diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau tidak dapat mengetahui secara mendetail sebab beliau seorang yang buta huruf, yang sama sekali tidak mengenyam pendidikan ilmiah.

Kami mengatakan kepada Profesor Moore, “Apa yang Anda katakan adalah benar, tetapi kebenaran itu kurang mutlak dibandingkan dengan bukti yang telah kami tunjukkan kepada Anda dari al-Quran dan sunnah yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan embriologi khususnya. Oleh karena itu, mengapa Anda tidak mengerjakan kebenaran dan sama sekali tidak membawa cabang dari ayat-ayat al-Quran dan hadis yang berhubungan dengan bidang spesialisasi atau keahlian Anda?”

Profesor Moore mengatakan bahwa dia telah me­masukkan beberapa referensi yang sesuai pada tempat yang cocok dalam sebuah buku khusus ilmiah. Akan tetapi, dia akan mengundang kami untuk membuat beberapa tambahan secara Islami, yang berkaitan dengan ayat-ayat al-Quran dan Hadis Nabi dan menyoroti berbagai macam aspek yang menakjubkan agar dimasukkan pada tempat yang cocok di dalam buku.

Hal ini telah dikerjakan dan akibatnya Profesor Moore menulis sebuah perkenalan untuk tambahan tentang Islam dan hasilnya dapat Anda lihat dalam buku ini. Setiap halaman berisi fakta tentang ilmu pengetahuan embriologi, kami telah menjelaskan beberapa ayat al­Quran dan hadis yang membuktikan bahwa al-Quran dan sunnah tidak dapat ditiru. Apa yang kami saksikan sekarang Islam menjadi berkembang ke daerah baru yang di dalamnya berisi keadilan dan tidak memihak pikiran orang.

Fase Penciptaan Manusia (A)

Allah mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai rasul untuk seluruh dunia sebagaimana yang difirmankan Allah di dalam al-Quran,

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuknya rahmat bagi sernesta alam. " (QS al-Anbiyaa' : 107)

Dan Nabi Muhammad SAW juga utusan Allah untuk orang Badui yang tinggal di gurun sebagaimana dia utusan Allah untuk ilmuwan sekarang ini yang dipenuhi alat-alat laboratorium modern. Dia adalah utusan Allah untuk semua manusia di setiap saat. Sebelum Nabi Muhammad SAW setiap rasul diutus semata-mata untuk kaumnya sendiri. . .

"Kamu hanyalah seorang pemberi peringatan, dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk. " (QS ar-Ra'ad : 7)

Akan tetapi, pesan Nabi Muhammad SAW adalah un­tuk seluruh umat manusia, dan untuk alasan itulah Allah memberi bukti yang mendukung pesan Nabi Muhammad SAW Bukti ini berbeda dengan bukti-bukti yang diberikan kepada nabi-nabi sebelumnya. Bukti kerasulan yang terdahulu hanya dilihat pada zamannya dan kemungkinan generasi setelah mereka. Kemudian Allah menurunkan rasul yang baru, yang didukung dengan keajaiban-keajaiban baru, untuk membangkitkan kepercayaan kaumnya. Akan tetapi, Nabi Muhammad SAW karena dipersiapkan sebagai rasul yang terakhir sampai Hari Kebangkitan, Allah memberinya mukjizat yang abadi sebagai bukti yang mendukung, yaitu al-Quran.

Jika kita bertanya kepada orang Yahudi atau Nasrani yang menunjukkan kepada kita mukjizat Nabi Musa AS atau Nabi Isa AS yang mungkin sebagai berkah dan perjanjian Allah kepada mereka, maka keduanya akan menyampaikan ini tidak dalam jangkauan manusia un­tuk mempertunjukkan kembali beberapa mukjizat sekarang. Nabi Musa memiliki mukjizat tongkat yang tidak dapat diciptakan atau Nabi Isa AS diminta untuk menghidupkan kembali orang dari kematian. Untuk kita sekarang, mukjizat-mukjizat ini tidak lebih hanya menjadi laporan sejarah. Tetapi jika seorang Islam ditanya tentang mukjizat terbesar Nabi Muhamad SAW dia dapat menunjukkan al-Quran. Al-Quran adalah sebuah mukjizat yang meninggalkan bekas di tangan kita. Al-Quran adalah buku yang terbuka untuk semua orang untuk mengujinya.

Sebagaimana firman Allah di dalam al-Quran:

"Katakanlah: Apakah keterangan (saksi) yang paling besar? Katakanlah: Allah, Dia men­jadi saksi antara aku dan kamu. Dan al-Quran ini diwahyukan kepadaku, supaya dengan itu aku dapat memberi pengertian kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai al-Quran kepadanya. " (QS al-An'am : 19)

Alam yang menakjubkan dari al-Quran di mana terletak pengetahuan di dalamnya. Allah Yang Maha Agung berfirman:

". . . tetapi Allah mengakui al-Quran yang diturunkan Nya kepadamu (Muhammad), Al­lah menurunkannya dengan ilmu Nya. " (QS an­Nisa : 166)

Oleh karena itu, para ilmuwan di zaman kita dan para sarjana, profesor di beberapa universitas yang memimpin pemikiran manusia, memiliki kesempatan untuk menguji pengetahuan yang ditemukan dalam firman Allah. Pada zaman sekarang, para ilmuwan telah mengungguli dalam penemuan alam semesta, akan tetapi al-Quran lebih dulu telah menjelaskan alam semesta dan sifat alami manusia sebelumnya. Sehingga, apa hasilnya?

Kami menghadirkan Profesor Emeritus Keith Moore, salah satu dari ilmuwan dunia yang terkemuka dalam bidang Anatomi dan Embriologi. Kami bertanya kepada Profesor Moore untuk memberikan analisis ilmiah dari beberapa versi al-Quran secara spesifik kepada kita dan hadis mengenai lapangannya secara khusus.

ProfesorMoore adalah penulis buku yang berjudul "The Development Human". Dia adalah Profiesor Emeritus ahli Anatomi dan Sel Biologi Universitas Toronto, Kanada, di mana dia Ketua Jurusan Basic Sciences, Fakultas Kesehatan, dan selama 8 tahun Ketua Jurusan Anatomi. Prof. Moore sebelumnya juga mengabdi pada Universitas Winndipeg, Kanada, selama sebelas tahun. Dia mengepalai beberapa Internasional Associations of Anatomist and the Counalofthe Union of Biological Science. Profesor Moore juga terpilih anggota Royal Medical Associations of Canada, the Intemational Academy of Cytology, the Union of American Anatomist dan the Union of North dan South American Anatomist, dan pada tahun 1984 menerima penghargaan yang terkenal dalam bidang anatomi di Kanada, JCB Grant Award dari the Canadian Association of Anatomist. Dia menerbitkan beberapa buku di klinik Anatomi dan Embriologi, delapan dari buku ini digunakan sebagai referensi di sekolah medis dan talah diterjemahkaii ke dalam enam bahasa.

Ketika kami bertanya kepada Profesor Moore untuk memberikan analisis kepada kami tentang ayat al-Quran dan sabda nabi, maka dia terkejut. Dia heran bagaimana Nabi Muhammad SAW pada 14 abad yang lalu dapat mendeskripsikan embrio dan fase perkembangannya secara detail dan akurat, yang mana para ilmuwan untuk mengetahui hal itu baru tiga puluh tahun terakhir. Akan tetapi, keterkejutan Profesor Moore itu berkembang begitu cepat menjadi kekaguman terhadap wahyu dan petunjuk ini. Dia memperkenalkan sudut pandang ini secara intelektual dan lingkungan ilmiah. Dia juga memberi sebuah surat pada kesesuaian embriologi modern dengan al-Quran dan Sunnah, di mana dia menyatakan sebagai berikut: "Ini merupakan kesenangan yang besar bagi saya untuk membantu mengklarifikasi pernyataan di dalam al-Quran tentang perkembangan manusia. Telah jelas bagi saya bahwa pernyataan yang datang kepada Nabi Muhammad pasti dari Allah atau Tuhan sebab hampir semua pengetahuan tidak ditemukan sampai beberapa abad terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. "

Pertimbangan yang terkenal dan dihormati ilmuwan embriologi ini dinyatakan atas pembelajaran ayat al-Quran sesuai dengan disiplinnya. Dan kesimpulannya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Allah berfirman di dalam al-Quran tentang tingkatan penciptaan manusia:

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. " (QS al-Mukminun : 12-14)

Kata alaqah dalam bahasa Arab memiliki tiga arti. Pertama, berarti pacet atau lintah; kedua, berarti sesuatu yang tertutup; dan ketiga, berarti segumpal darah.

Dalam perbandingan lintah air tawar dengan em­brio pada tingkat alaqah, Profesor Moore menemukan persamaan yang besar di antara keduanya. Dia menyimpulkan bahwa embrio selama tingkatan alaqah kenampakannya mirip dengan lintah itu. Profesor Moore menempatkan gambar sisi embrio dengan sisi gambar seekor lintah. Dia memperlihatkan gambar gambar ini kepada para ilmuwan di beberapa konferensi.

Arti kedua dari kata alaqah adalah sesuatu yang tergantung. Hal ini dapat kita lihat dalam penggabungan embrio dengan uterus dalam rahim ibu selarna masa alaqah. Arti ketiga kata alaqah adalah segumpal darah. Hal ini berarti, sebagaimana yang diungkapkan Profesor Moore, bahwa embrio selama selama fase alaqah melalui kejadian di dalam, seperti formasi darah di dalam pembuluh darah tertutup, sampai putaran metabolisme yang dilengkapi dengan plasenta. Selama fase alaqah, darah ditarik di dalam pembuluh darah tertutup dan itulah mengapa embrio tampak seperti segumpal darah, tampak juga seperti lintah. Kedua deskripsi itu dijelaskan secara menakjubkan dengan kata alaqah di dalam al-Quran.

Bagaimana Nabi Muhammad SAW kemungkinan telah mengetahui dirinya. Profesor Moore juga mempelajari embrio saat fase mudghah (gumpalan seperti zat/ substansi). Dia mengambil lempengan tanah liat yang kasar dan mengunyahnya ke dalam mulut. Kemudian membandingkan lempengan itu dengan sebuah gambar embrio saat fase mudghah. Profesor Moore me­nyimpullkan bahwa embrio saat fase mudghah tampak jelas seperti gumpalan zat. Beberapa majalah di Kanada menerbitkan beberapa pernyataan Profesor Moore. Lagi pula, dia menjelaskan dalam tiga acara TV di mana dia menyoroti kesesuaian ilmu pengetahuan modern dengan apa yang tersebut di dalam al-Quran selama 1400 tahun. Akibatnya, Profesor Moore ditanya dengan pertanyaan seperti berikut: "Apakah hal ini berarti kamu percaya bahwa al-Quran itu firman Allah?" Kemudian beliau menjawab: "Saya tidak menemukan kesulitan dalam penemuan hal ini." Profesor Moore juga ditanya: "Bagaimana Anda percaya dengan Nabi Muhammad SAW jika Anda masih percaya dengan Yesus Kristus?" Dia menjawab: "Saya percaya keduanya, karena keduanya dari sekolah yang sama."

Dengan demikian, semua ilmuwan modern yang ada di dunia sekarang ini datang untuk mengetahui bahwa al-Quran itu adalah pengetahuan yang diturunkan dari Allah.

"Akan tetapi Allah mengakui al Quran yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu Nya. . . . . .. " (QS an Nisa : 166)

Hal ini juga diikuti bahwa ilmuwan modern tidak menemukan kesulitan dalam mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah.

Islam dan llmu Pengetahuan


Pemikiran Barat sekarang ini berada di tengah-tengah peperangan antara agama dan ilmu pengetahuan. Hampir tidak mungkin pemikir Barat sekarang ini menerima kenyataan bahwa kemungkinan ada pertemuan secara mendasar antara agama dan ilmu pengetahuan. Injil, yang menjadi kepercayaan orang Nasrani, menyatakan pohon di mana Nabi Adam AS dilarang memakannya adalah pengetahuan. Oleh karena itu, setelah dia memakan buahnya, dia memperoleh pengetahuan tertentu yang mana tidak dia peroleh sebelumnya. Dengan alasan inilah orang Eropa membantah bahwa selama dua abad mereka tidak menerima pengetahuan ilmiah yang datang dari orang Islam.

Gereja menyatakan bahwa pencarian seperti penge­tahuan ilmiah adalah penyebab dosa yang asli. Uskup menggambarkan bukti mereka dari Perjanjian Lama yang menyebutkan bahwa ketika Adam memakan pohon itu, ia mendapat beberapa pengetahuan, Allah tidak menyukainya dan menolak memberinya kemurahan hati. Oleh karena itu, pengetahuan ilmiah menolak sepenuhnya peraturan gereja yang dianggap sebagai hal yang tabu. Akhirnya, ketika pemikir bebas dan ilmuwan Barat sanggup mengatasi kekuatan gereja, mereka membalas dendam dengan mencari petunjuk yang berlawanan dan menekan beberapa kekuatan agama. Mereka beralih kepada hal-hal yang berlawanaan untuk mengatasi kekuatan gereja dan mengurangi pengaruhnya kepada hal yang sempit dan membatasi pada sudut-sudut tertentu.

Oleh karena itu, jika Anda membicarakan persoalan agama dan ilmu pengetahuan dengan pemikir Barat, dia benar-benar akan keheranan. Mereka tidak tahu Islam. Mereka tidak mengetahui bahwa Islam menjunjung tinggi status ilmu pengetahuan dan orang yang berilmu, menghormati mereka sebagai saksi setelah malaikat yang berhubungan dengan fakta baru tiada Tuhan selain Allah, sebagaimana yang telah Allah firmankan kepada kita:

"Tuhan menyatakan, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Dia, dan malaikat-malaikat dan orang-orang berilmu yang tegak dengan keadilan. " (QS AIi Imran : 18)

Dan Allah Yang Maha Agung dan Maha Muha berfirman kepada kita:

"Oleh sebab itu, ketahuilah bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah ".

(QS Muhammad : 19)

Telah diketahui dari al-Quran bahwa Nabi Adam AS diistimewakan melebihi malaikat dengan kebaikan pengetahuan yang diberikan Allah kepadanya. Kisah dari al-Quran menyangkal Injil yang menyebutkan orang Islam dianggap menyimpang. Menurut al-Quran, kenyataan bahwa Nabi Adam diberi pengetahuan adalah sebuah tanda kehormatan dan bukan karena pengusirannya dari surga. Oleh karena itu, jika seseorang membicarakan Islam dan ilmu pengetahuan dengan para pemikir Barat, mereka cenderung mengharapkan argumen yang sama dengan apa yang ada dalam budaya dan agama mereka. Itulah mengapa mereka memberi reaksi dengan keterkejutan ketika mereka ditunjukkan dengan fakta yang jelas sekali dari al-Quran dan Sunnah.

Di antara pemikir Barat yang menampakkan keterkejutannya itu adalah Prof. Dr. Joe Leigh Simpson, Ketua jurusan Ilmu Kebidanan dan Ginekologi dan Pakar Molecular dan Genetika Manusia, Baylor College Medicine, Houston. Ketika kami pertama kali bertemu dengannya, Profesor Simpson menuntut pembuktian al-Quran dan Sunnah. Akan tetapi, kami sanggup menghilangkan kecurigaannya. Kami menunjukkan kepadanya sebuah naskah garis besar perkembangan embrio. Kami membuktikan kepadanya bahwa al-Quran menjelaskan kepada kita bahwa turunan atau hereditas dan sifat keturunan atau kromosom yang tersusun hanya bisa terjadi setelah perpaduan yang berhasil antara sperma dan ovum. Sebagaimana yang kita ketahui, kromosom-kromosom ini berisi semua sifat-sifat baru manusia yang akan menjadi mata, kulit, rambut, dan lain-lain.

Oleh karena itu, beberapa sifat manusia yang tersusun itu ditentukan oleh kromosomnya. Kromosom-kromosom ini mulai terbentuk sebagai permulaan pada tingkatan nutfah dari perkembangan embrio. Dengan kata lain, ciri khas manusia baru terbentuk sejak dari tingkatan nutfah yang paling awal. Allah Yang Maha Agung dan Yang Maha Mulia berfirman di dalam Al-Quran:

"Celakalah kiranya manusia itu! Alangkah ingkarnya (kepada Tuhan). Dari apakah dia di­ciptakan? Dari setetes air mani. (Tuhan) menciptakannya dan menentukan ukuran yang sepadan dengannya. " (QS Abasa : 17-19)

Selama empat puluh hari pertama kehamilan, semua bagian dan organ tubuh telah sempurna atau lengkap, terbentuk secara berurutan. Nabi Muhammad SAW menjelaskan kepada kita di dalam hadisnya: "Setiap dari kamu, semua komponen penciptamu terkumpul dalam rahim ibumu selama empatpuluh hari." Di dalam hadis lain, Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Ketika setetes nuftah telah melewati 42 malam, Allah menyuruh seorang malaikat ke rahim perempuan, yang berkata: `Ya Tuhan! Ini laki­laki atau perernpuan?' Dan Tuhanmu memutus kan apa yang Dia kebendaki. "

Profesor Simpson mempelajari dua hadis ini secara intensif, yang mencatat bahwa empat puluh hari pertama itu terdapat tingkatan yang dapat dibedakan secara jelas atau embriogenesis. Secara khusus, Dia dibuat kagum dengan ketelitian yang mutlak dan keakuratan ke­dua hadis tersebut. Kemudian dalam salali satu konferensi yang dihadirinya, dia memberikan pendapat sebagai berikut: "Dari kedua hadis yang telah tercatat dapat membuktikan kepada kita gambaran waktu secara spesifik perkembangan embrio sebelum sampai 40 hari. Terlebih lagi, Pendapat yang telah berulang-ulang dikemukakan pembicara yang lain pagi ini. bahwa kedua hadis ini telah menghasilkan dasar pengetahuan ilmiah yang mana rekaman mereka sekarang ini didapatkan".

Profesor Simpson mengatakan bahwa agama dapat menjadi petunjuk yang baik untuk pencarian ilmu pengetahuan. Ilmuwan Barat telah menolak hal ini. Seorang ilmuwan Amerika mengatakan bahwa agama Islam dapat mencapai sukses dalam hal ini. Dengan analogi, jika Anda pergi ke suatu pabrik dan Anda berpedoman pada mengoperasikan pabrik itu, kemudian Anda akan paham dengan mudah bermacam-macam pengoperasian yang berlangsung di pabrik itu. Jika Anda tidak memiliki pedoman ini, pasti tidak memiliki kesempatan untuk memahami secara baik variasi proses tersebut. Profesor Simpson berkata: "Saya pikir tidak ada pertentangan antara ilmu genetika dan agama, tetapi pada kenyataannya agama dapat menjadi petunjuk ilmu pengetahuan dengan tambahan wahyu ke beberapa pendekatan ilmiah yang tradisional. Ada kenyataan di dalam al-Quran yang ditunjukkan oleh ilmu pengetahuan menjadi valid, yang mana al-Quran mendukung ilmu pengetahuan yang berasal dari Allah."

Inilah kebenaran. Orang-orang Islam tentunya dapat memimpin dalam cara pencarian ilmu pengetahuan dan mereka dapat menyampaikan pengetahuan itu daIam status yang sesuai. Terlebih lagi orang Islam mengetahui bagaimana menggunakan pengetahuan itu sebagai bukti keberadaan Allah, Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Mulia untuk menegaskan kerasulan Nabi Muhammad SAW

Allah berfirman di dalam al-Quran:

"Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini dan pada diri mereka sendiri, sampai terang kepada mereka, bahwa al-Quran ini suatu kebenaran. Belumkah cukup bahwa Tuhan engkau itu menyaksikan segala sesuatu. " (QS Fushshilat : 53)

Setelah menyadari melalui beberapa contoh keajaiban al-Quran secara ilmiah yang telah diketahui berhubungan dengan komentar yang objektif dari para ilmuwan, mari kita tanyakan pada diri kita sendiri pertanyaan-pertanyaan berikut:

  1. Dapatkah hal ini mejadi sebuah kejadian yang kebetulan bahwa akhir-akhir ini penemuan informasi secara ilmiah dari lapangan yang berbeda yang tersebutkan di dalam al-Quran yang telah turun pada 14 abad yang lalu?

  2. Dapatkah al-Quran ini ditulis atau dikarang Nabi Muhammad SAW atau manusia yang lain?

Hanya jawaban yang mungkin untuk pertanyaan itu bahwa al-Quran secara harfiah adalah kata-kata atau firman Allah yang diturunkan kepadanya. Al-Quran adalah perkataan yang harfiah dari Allah yang Dia turunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang melalui malaikat Jibril. Al-Quran ini dihapalkan oleh Nabi Muhammad SAW yang kemudian didiktekan kepada sahabat-sahabatnya. Para sahabat inilah yang selanjutnya secara bergiliran menghapalkannya, menulis ulang, dan memeriksa/meninjau lagi dengan Nabi Muhammad SAW

Terlebih lagi, Nabi Muhammad SAW memeriksa kembali al-Quran dengan malaikat Jibril sekali setiap bulan Ramadhan dan dua kali di akhir hidupnya pada kalender Hijriah yang sama. Sejak al-Quran diturunkan sampai hari ini, selalu ada banyak orang Islam yang menghapalkan semua ayat al-Quran surat demi surat. Sebagian dari mereka ada yang sanggup menghapal al-Quran pada waktu berumur 10 tahun. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika tidak ada satu surat pun di dalam al-Quran yang berubah selama berabad-abad sampai sekarang.

Al-Quran telah diturunkan 14 abad yang lalu menyebutkan fakta yang bacu ditemukan akhir-akhir ini yang telah dibuktikan oleh para ilmuwan. Hal ini membuktikan tidak ada keraguan bahwa al-Quran adalah firman yang harfiah dari Allah, yang diturunkan-Nya kepada Nabi Muhammad SAW. Selain itu juga menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah benar-benar nabi dan utusan yang diturunkan Allah. Hal ini adalah di luar alasan bahwa setiap manusia 14 abad yang lalu telah mengetahui beberapa fakta ini yang ditemukan atau dibuktikan akhir-akhir ini dengan peralatan canggih dan metode yang rumit.

Apakah AI-Quran itu dan Siapakah Muhammad itu?

Al-Quran adalah firman Allah sebagai sumber utama untuk setiap keyakinan dan ibadah orang Islam. Hal ini merupakan sebuah peraturan untuk semua subjek yang berhubungan dengan manusia, kebijakan, ajaran, ibadah, jual-beli, hukum, dan lain-lain. Akan tetapi yang Paling utama adalah hubungan antara Allah dan makhluk Nya. Pada saat yang sama, al-Quran juga memberikan pedoman dan ajaran secara mendetail tentang kemasyarakatan, bergaul atau berperi laku dengan sesama manusia dan sistem ekonomi secara adil.

Mushaf al-Quran diturunkan kepada Nabi Muham­mad SAW dalam bahasa Arab. Sehingga banyak terjemahan al-Quran, baik yang diterjemahkan ke daiam bahasa Inggris atau bahasa lain. Tidak ada al-Quran lain atau versi lain al-Quran selain al-Quran itu sendiri. Al-Quran tetap eksis hanya dalam bahasa Arab sejak diturunkan.

Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah, Jazirah Arab, tahun 570 M. Ayahnya meninggal sebelum beliau lahir dan sebentar kemudian ibunya juga meninggal. Akhirnya beliau diasuh pamannya, salah satu orang yang dihormati di suku Quraisy. Dia diasuh dalam keadaan buta huruf tidak dapat membaca atau menulis dan tetap dengan keadaan demikian sampai meninggal. Begitu beliau tumbuh dewasa, dia terkenal sebagai seorang yang jujur, terpercaya, dermawan, dan tulus hati. Karena dia orang yang dapat dipercaya, dia mendapat julukan al-Amin.

Nabi Muhammad SAW sangat tafakur dan dia sangat dibenci oleh masyarakat yang menyembah berhala sepanjang dekade. Pada waktu berumur empat puluh tahun, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama kali dari Allah SWT melalui malaikat Jibril. Wahyu itu berlangsung selama 23 tahun dan terkumpul dalam sebuah mushaf yang terkenal dengan nama al-Quran.

Hadis adalah perkataan Nabi Muhammad SAW yang juga dijadikan sumber kedua. Akan tetapi, pernyataan ini tidak dijadikan susunan kata secara langsung dari Allah. Sesegera mungkin dia mulai menyampaikan al-Quran dan mengajarkan kebenaran yang telah Allah turunkan kepadanya, dia dan pengikutnya yang masih sedikit mendapat penyiksaan dari orang-orang kafir. Penganiayaan itu semakin berat sampai tahun 622 M, dimana Allah memerintahkan mereka untuk berhijrah.

Hijrah ini dari kota Makkah ke kota Madinah, sekitar 400 kilometer ke arah utara. Peristiwa hijrah ini lantas dijadikan sebagai pedoman kalender Hijriah.

Setelah beberapa tahun, Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya sanggup untuk kembali ke Makkah di mana mereka memaafkan musuh-musuhnya. Sebelum Nabi Muhammad SAW meninggal pada umur 63 tahun, Islam telah menyebar ke seluruh ke Jazirah Arab. Dan sampai berabad-abad sepeninggainya, Islam telah menyebar ke Barat sampai ke Spanyol dan ke Timur sejauh Cina.

Di antara alasan-alasan mengapa Islam cepat berkembang dan menyebar karena Islam mengajarkan kebenaran dan perdamaian. Islam memiliki keyakinan, mengajarkan, dan merupakan agama tauhid, yaitu yang hanya menyembah satu tuhan, satu-satunya Tuhan yang patut disembah.

Nabi Muhammad SAW adalah contoh teladan yang memiliki sifat jujur, adil, murah hati, selalu mengasihi, dan pemberani. Dia menghilangkan semua tindak kejahatan dan berusaha sejauh mungkin semata-mata demi agama Allah dan pahala-Nya di akhirat nanti. Semua urusan dan perbuatannya dia sandarkan pada Allah.