Kesabaran umat Islam terus diuji dengan berbagai penghinaan yang dilontarkan Barat, mulai dari kasus kartun Nabi Muhammad saw yang sekarang merebak lagi di Denmark, sampai pernyataan Paus Benediktus XVI yang tendesius tentang jihad dalam Islam dan sosok Nabi Muhammad saw beberapa waktu lalu. Kasus-kasus yang mengundang kemarahan umat Islam ini menimbulkan pertanyaan mengapa penghinaan ini kerap dialami umat Islam. Isu integrasi, toleransi dan dialog seolah menjadi lips service semata karena faktanya umat Islam dan Islam lah yang selalu menjadi sasaran penghinaan dan kebencian. Artikel "Akar-akar Penghinaan terhadap Islam dalam Pemikiran Barat" yang ditulis oleh Sohaib Jassim akan menjawab pertanyaan itu. Sohaib Jassim adalah Kepala Biro Al-Jazeera TV Jakarta. Karena panjangnya artikel, eramuslim akan memuatnya secara bersambung dalam sembilan bagian tulisan. Selamat membaca.
Mengapa Paus Benediktus Menghina Islam lagi?
Pada bulan September 2005, penghinaan terhadap Rasulullah SAW mengemuka melalui karikatur di sebuah majalah di Denmark. Setelah itu penghinaan terhadap Rasulullah SAW terus bergulir bak salju dan meluas baik melalui karikatur ataupun makalah dan tulisan sampai pertengahan tahun 2006 sekarang ini. Satu tahun berlalu - seolah tidak dan belum puas dengan penghinaan sebelumnya - pada bulan September 2006, penghinaan itu kembali terjadi. Seolah mereka ingin terus memprovokasi kemarahan hati umat Islam. Sungguh ironi yang diperlukan dialog antara agama yang terjadi justru provokasi.
Ternyata serangan dan kecaman terhadap Islam dan kaum muslimin tidak pernah berhenti. Beberapa minggu yang lalu misalnya, kaum intelektual garis kanan Amerika Serikat menghina Islam dengan perkataan bahwa Islam itu Fasis. Hal ini kemudian menjadi bahan pidato politik Presiden Amerika Serikat George W Bush yang kemudian menjadi isu hangat di negeri paman syam itu.
Pada tanggal 12 september 2006, sehari setelah peringatan serangan 11 september – alih-alih mengambil simpati umat Islam - Paus Benediktus XVI - seorang pemimpin tertinggi umat katholik di dunia - dalam pidato ilmiahnya di universitas Regensburg di Jerman, kembali mengulangi penghinaan terhadap Islam untuk yang kesekian kali. Ceramah ilmiah yang bertema “korelasi antara iman dan logika dan pentingnya dialog antar peradaban dan agama” ternyata kandungan ceramah itu sangat jauh dari temanya. Ceramahnya tidak mengandung tentang dialog dengan umat Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia, justru sebaliknya yang diungkapkannya hanya hinaan terhadap hal-hal yang sangat disucikan dalam Islam. Pada ceramahnya itu Paus Benedict XVI mengutip pernyataan Kaisar Kristen Ortodoks abad ke 14 Kaisar Manuel II Palaeologus yang merupakan hinaan dan kecaman yang jelas terhadap Islam dan Nabi Muhammad SAW.
Dalam ceramahnya, Paus Benediktus XVI mengutip isi salah satu buku sejarah tentang pentingnya pembuktian tuhan melalui logika. Tetapi semua yang dikutip oleh Paus Benediktus XVI merupakan kecaman dan hinaan tanpa alasan kepada Nabi Muhammad SAW dan kepada Islam.
Setelah beberapa hari dari ucapannya, pada tanggal 16 – 17 september, Paus Benediktus XVI menjelaskan apa yang dia katakan sebelumnya bahwa menurutnya ia hanya mengutip pernyataan orang lain dan umat Islam salah memahami konteks yang ia kutip dan ia menyesal dengan munculnya kemarahan umat Islam yang menurutnya menyalahi kodrat idiologi dirinya.
Penjelasan seperti itu bukan meringankan penghinaan sebelumnya justru malah tambah menghina umat Islam yang menurutnya salah memahami apa yang dia katakan seolah-olah umat Islam itu bodoh dan tidak faham konteks sebuah pembicaraan. Berikut adalah pendapat DR Yusuf Al-Qardhawi Ketua Persatuan ulama Islam Internasional dan pendapat beberapa ulama Islam lainnya bahkan tokoh Kristen internasional yang semuanya berpendapat bahwa ada beberapa kesalahan fatal Paus Benediktus XVI dalam beberapa point di bawah ini:
Paus Benedict XVI dalam ceramahnya mengutip sebuah dialog yang panjang yang menggambarkan penghinaan terhadap Islam bahwa Islam itu disebarkan dengan kekerasan dan pedang, dan bahwasanya Rasulullah SAW sama sekali tidak membawa kebaikan kecuali ajaran syetan dan tidak manusiawi dan masih banyak lagi penghinaan yang dikutip seperti yang dimuat oleh website Vatikan dalam internet.
Yang menjadi masalah adalah, bahwa dalam etika intelektual, ketika seorang peneliti mengutip sebuah pendapat orang lain dan ia sendiri tidak memberikan tanggapan apapun baik setuju atau tidak dengan pendapat tadi maka pada dasarnya yang mengutip itu setuju. Ini berarti Paus Benediktus XVI setuju dengan penghinaan terhadap Islam seperti yang ia kutip dari dialog tersebut.
Dari sisi media, menurut salah satu koran terkemuka di Amerika Serikat, seharusnya Paus Benediktus XVI sadar bahwa ia tidak memberikan kuliah di sebuah kelas teologi seperti yang pernah dia lakukan beberapa tahun lalu, ia juga harus sadar bahwa ia tidak berceramah di depan belasan muridnya di sebuah kelas terbatas. Pada kesempatan seperti itu, ia berhak untuk berbicara apapun yang ia mau. Tetapi sekarang dia harus sadar, dia bukan lagi dosen teologi dan sejarah agama tetapi dia adalah pemimpin tertinggi agama katholik.
Dari kejadian ini, nampaknya Paus Benediktus XVI memerlukan juru bicara dan biro media agar bisa mengarahkan arah pembicaraan yang berguna mengenai hal-hal yang sensitif ketika terjadi krisis hubungan antara umat Islam dan beberap negara besar. Mengutip dengan cara seperti itu sungguh tidak ilmiah, non intelektual dan tidak berguna dari sisi media.
Sangat mustahil bagi Paus Benediktus XVI tidak mengenal Islam sama sekali. Karena dia adalah seorang pemimpin agama tertinggi. Padahal dengan kutipan dari sebuah buku sejarah yang umurnya sudah lebih dari 600 tahun lalu sangat menghina Islam dan kaum muslimin. Bahkan dalam penjelasan selanjutnya ia katakan bahwa umat Islam salah memahami konteks yang ia kutip seolah-olah umat Islam itu bodoh dan tidak memahami sesuatu. Jawaban dan penjelasan yang sama pernah diungkapkan oleh pembuat karikatur yang menghina Islam satu tahun yang lalu. Pada waktu itu sang pembuat karikatur menjelaskan bahwa pembuatan karikatur seperti itu merupakan hak kebebasan dalam berekspresi dan bahwasanya umat Islam tidak mengerti dunia karikatur. Seolah-olah mereka ingin mengatakan bahwa umat Islam itu sangat terbelakang dalam politik maka mereka harus mengajarkannya kepada umat Islam tentang demokrasi dan kebebasannya menurut versi mereka. Menurut mereka juga bahwa umat Islam itu juga terbelakang dalam kreatifitas ilmiah, maka mareka harus mengajarkannya kepada umat Islam tentang kebebasan mutlak seperti dalam karikatur. Menurut mereka umat Islam itu bodoh dalam ilmu pengetahuan, maka mereka harus mengajarkan tentang ilmu, logika, peradaban dan bahkan tentang idiologi agama. Mungkinkah mereka akan mengajarkan umat Islam tentang semua hal tadi dengan cara Paus Benediktus XVI? Seolah-olah umat Islam itu terbelakang dan akan maju kalau setuju dengan penghinaannya terhadap Islam.
Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/lpk/6a09165559-akar-akar-penghinaan-terhadap-islam-dalam-pemikiran-barat-1.htm?prev
No comments:
Post a Comment